Setelah diizinkannya para Misionasis Katolik dari Negeri Asing masuk ke Pulau Bali melalui Pelabuhan Padang Bai Karang Asem dan Kerajaan Klungkung – Bali Timur. Para Misionaris ini mulai bekarya di Pulau Dewata ini, Tepatnya dari Banjar Tuka. Misi Katolik mulai membuahkan hasil di tempat ini, bahkan mulai berkembang pesat. Walau karena perjuangan itu sendiri membutuhkan banyak pengurbanan, baik dari sisi di dalam keluarga maupun dari sisi kehidupan masyarakat beradat dan berbanjar, Karya Misi ini pun banyak mengalami arar rintangan. Dimana mulai terjadi pertentangan, pecekcokan, di dalam keluarga maupun di adat dan banjar. Hal ini dapat kita maklumi, kita bayangkan saja dengan sebuah keluarga, yang mulanya hidup rukun, aman dan tenteram, tiba-tiba kedatangan tamu asing, yang mencoba merenggut kedamaian itu, dengan caranya sendiri. Hal ini sudah pasti membawa perpecahan, perselisihan dan kesalahpahaman yang tidak mungkin dihindari. Walaupun situasi ini, tidak terjadi disetiap keluarga. Dan tidak dapat dipungkiri, bahwa banyak diantara keluarga-keluarga masyarakat ini sangat mendukung dan menyambut baik "Pelayanan Misi Katolik" ini.

Berbekal dari semangat membaja membangun masa depan bagi anak cucu dan keturunan mereka, serta dikuatkan pula oleh Iman yang kuat. Dan didampingi oleh para Misionaris ini, akhirnya terkumpullah 18 (delapan belas) kepala keluarga dari Daerah Tuka dan sekitarnya (Kabupaten Badung). Mereka berangkat menyisiri tepi pantai, dan tentunya sebuah perjalanan yang sangat melelahkan, mereka tetap bergerak menuju tanah terjanji yaitu PALASARI. Tepatnya pada tanggal 9 September 1949. Rombongan Nabi Musa muda ini menginjakkan kaki di bumi Palasari.

Palasari adalah sebuah nama yang indah. Terletak di Bali Barat, lebih kurang 250 km ke arah barat dari Kota Denpasar.Tepatnya di Desa Ekasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Palasari mungkin dapat diartikan sebagai berikut: PALA – dari nama sebuah benda yang dapat dipakai sebagai bahan rempah berfungsi untuk menghangatkan tubuh. Dan SARI – berarti inti-pati. Jadi Palasari adalah sebuah tempat yang nantinya akan menjadi wadah bagi tumbuhnya kehidupan, kehangatan yang berdasarkan Kasih. Dan Kasih itu tidak lain adalah Kristus sendiri yang sudah mereka imani, sejak awal niat mereka datang dan membuka hutan Palasari ini. Demikian kiranya sebersit harapan dari para perintis kita, para pahlawan kita yang telah menyediakan tempat bagi kita, Tanah Kanaan Baru,Tanah terjanji, Bumi Palasari ini. Yang Musanya tidak lain adalah Salah seorang Putera terbaik dari Negeri asing Kerjaaan Belanda, dia adalah Pater Simon Bais, SVD.

Seiring Perjalanan Sang waktu, dan Perjalanan Perjuangan itu sendiri, Pater Simon Bois,SVD dilanjutkan oleh Pater Bernardus Blanken, SVD. Dari Ide beliau pulalah bahwa Palasari tidak akan maju berkembang, jika tanpa sebuah pendidikan yang baik.

Maka Pada tahun 1949 bersama para perintis kita, dibangunlah sebuah gedung sederhana yang bertiang kayu, berlantaikan tanah, berdinding gedeg. Bangunan itu terdiri dari tiga lokal. Dua digunakan untuk ruang kelas dan satu lokal digunakan untuk kamar kerja dan sekaligus kamar tidur beliau.

Dalam perjuangan melanjutkan karya misi pendidikan ini, beliau (Pater Bernardus Blanken,SVD) ditemani oleh para guru misionaris lokal Palasari, yaitu:

  1. Bpk. I Gusti Kompiang Jiwa
  2. Bpk. Ketut Simon
  3. Bpk. Pan Catri
  4. Bpk. I Nyoman Pegeg
  5. Bpk. Philipus Parera
  6. Bpk. Lender
  7. Bpk. Meter
  8. Bpk. Limin.

Dengan perjuangan dan semangat yang pantang menyerah,tak kenal putus asah, akhirnya perjuangan inipun membuahkan hasil. Tepatnya pada tanggal 1 Agustus 1951. Sekolah ini resmi beridiri. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Daerah Bali nomor: KDH/ 5/I/85.

Dan Pada tanggal 19 Januari 1951 sekolah ini sudah mulai dipakai dengan jumlah murid sebanyak 82 orang. Diberi nama "SEKOLAH RAKYAT BUDI RAHAYU – PALASARI". Dengan berlindung kepada SANTO ALLOYSIUS. Yang pestanya dirayakan setiap tanggal 21 Juni.

Karena keterbatasan gedung dan tenaga pendidik,sekolah ini mulai dari kelas IV, karna untuk melanjutkan dari anak-anak tempat asalnya (Tuka) maupun dari Sekolah Rakyat Negeri Adnyasari. Pada tanggal 4 Januari 1952. Datang lagi seorang putera terbaik dari Negeri Asing Kerjaaan Belanda.

Misionaris ini bernama Bruder Ignatius DeVriese, SVD. Mereka bersama mengembangkan dan memajukan karya misi pendidikan di bumi Palasari ini.

Pada tahun 1954, karena kebutuhan kelas, dibangun kembali 3 ruangan kelas, sehingga semua menjadi 6 ruangan. Waktu itu, gedung sekolah masih membelakangi lapangan olah raga ( menghadap ke Utara ).Ujian Pelulusan pertama kali diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat pada tahun ajaran 1953/1954. Beruji 12 orang dan lulus 4 orang. Dengan tenaga pendidik pada waktu itu adalah:
Kepala Sekolah: Bpk. Piter Laka dari Flores.
Guru:
1. Bpk. I Nyoman Pegeg
2. Bpk. Philipus Parera
3. Bpk. Simon Ketut Pegig.

Pada tahun 1956. Pengelolaan Sekolah ini kemudian diserahkan kepada Suatu Badan Pengurus yang dinamakan Pengurus Yayasan Katolik yang pada waktu itu Pengurusnya bernama Pater Dr. Hubertus Embuiru, SVD. Seorang putera terbaik dari Flores. Dan Pimpinan Yayasan Katolik tetinggi adalah Mgr. Dr. Paulus Sani, SVD.

Dan Pada tahun yang sama pula, Para Misionaris ini mengalamai banyak tantangan dan cobaan yang datangnya silih berganti. Dimana Berbagai jenis penyakit datang silih berganti menyerang anak – anak dan orang dewasa, sedangkan tenaga medis sangat terbatas, dan beliaupun sudah dalam kondisi renta karena ikut teserang penyakit, dan terpaksa harus dirawat di Rumah Sakit di Semarang. Beliau adalah Ibu Ayu Sabda Kusuma, salah sorang Puteri Terbaik dari Jawa Tengah.

Melihat situasi yang sangat kritis inilah, Mgr.Dr. H. Hermens,SVD datang sendiri ke biara suster-suster Konggergasi Tapa Denda dan Cinta Kasih Kristiani. Orde ke tiga dari Bapa Serafikus Santo Fransiskus yang berpusat di Jalan Ronggowarsito nomor 8 Semarang. Untuk mohon bantuan tenaga Misionaris di bidang (a) Pendidikan, (b) Kesehatan dan (c) Karya Katekese.

Demikian, semuanya berjalan berjuang mengentaskan kemiskinan, kebodohan dan kebradaban dan melawan segala jenis penyakit. Semuanya diljalani dengan penuh kasih, tanpa keluh-kesah, oleh para misionaris ini, di bumi Palasari.